Narkoba dunia maya, pernahkah anda mendengar hal tersebut? Bagaimana narkoba bisa merambah dunia tak kasat mata tersebut.
Baru-baru ini, sedang rame kita terdengar candu dari ranah internet. Ya, I-Doser, itulah yang saat ini sedang ramai dibicarakan di internet, I-Doser sedang ramai dibicarakan di internet terkait adanya efek kecanduan yang mungkin timbul darinya. Tidak tanggung-tanggung, BNN (Badan Narkotika Nasional), hingga Menkominfo juga turut memberikan komentar terkait Narkotik digital tersebut.
I-Doser, adalah aplikasi, yang berjalan di platform Android dan IOS, cara kerja aplikasi ini cukup unik, yaitu memanfaatkan teknologi yang berbasis gelombang otak manusia.
Aplikasi ini, akan memanfaatkan teknologi berbasis Binaural brainwave (gelombang otak), pada tahap tertentu, gelombang otak kita bisa di stimulasi agar mencapai level sesuai dengan harapan kita. Stimulasi tersebut dapat didesain agar kita seolah seperti sedang merasakan sensasi mengkonsumsi narkoba. Istilah kerennya seperti orang Ngefly.
Durasi suara, sekitar 30-40 menit, akan memicu orang yang mendengarkannya seperti merasakan sensasi tertentu. Suara yang diperdengarkan ke pengguna, dapat mempengaruhi mood pengguna. Efek yang ditimbulkan, seperti halusinasi, efek terhadap perasaan dan lainnya.
"Tidak, I-Doser bukanlah golongan narkotika,"Â , Ungkap Kombes Pol Slamet Pribadi, Kepala Humas BNN melalui Okezone.
“Karena itu, I-Doser kan hanya gelombang suara. Dia bukan zat atau obat seperti dituangkan dalam UU narkotika.†Pungkasnya.
Dalam kesempatan lain, Menkominfo Rudiantara, memberikan pernyataanya, “Kita juga harus konsultasi dengan psikolog karena yang tahu itu kan masalah sugesti,â€
“Itu teori hipnotis atau apa, teman-teman ini sedang cek. Ada panelnya, hari ini langsung dievaluasi,†tambahnya.
“Kalau masyarakat katakan ini itu (meresahkan) ya kita blok,â€Â tutup menteri yang kerap disapa Chief RA tersebut.
Secara teoritis, gelombang otak manusia memang bisa dibagi menjadi empat. Yaitu gelombang alpha, betha, delta dan teta. Saya ingin memfokuskan pembahasan di gelombang alfa saja, karena ini adalah gelombang dimana otak manusia dalam kondisi sangat rileks.
Gelombang alfa, terjadi ketika orang sedang meditasi, pra tidur, bangun tidur. Dalam kondisi gelombang alfa, getaran otak manusia berkisar diantara 8-13 siklus per detik. Di level itulah, orang bisa dihipnotis. Di level gelombang alfa lah, kita bisa masuk ke alam bawah sadar kita.
Dalam kasus aplikasi I-Doser, gelombang otak diprakondisikan ke level alfa, kemudian baru distimulasi dengan rangsangan yang sudah di program di aplikasi tersebut. Stimulan bisa diberikan sesuai dengan rancangan programer aplikasi, dalam kasus I-Doser yang sedang diramaikan, adalah orang seperti dibuat mengkonsumsi narkoba.
Pemanfaatan gelombang alfa bagi kita, sebenarnya sangat banyak, karena di siklus gelombang alfa tersebut, kita bisa merasakan tenteram dan damai, namun dalam kasus I-Doser ini, mari kita sama-sama cermati, apakah aplikasi tersebut dapat memberi manfaat untuk kita, atau justru menimbulkan efek negatif bagi kita. Sekali lagi, filter penuh ada di kita.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.