Plimbi.com - Bahan bakar minyak (BBM) jenis B50 akan segera didistribusikan ke seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Provinsi jambi pada awal September 2026 ini.
B50 adalah salah satu bahan bakar diesel yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit (FAME) dan 50 persen solar. Perbedaan utama antara B50 dengan solar konvensional adalah kandungan biodiesel yang lebih tinggi sehingga B50 mempunyai porsi energi terbarukan lebih besar.
Hal inilah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil. B50 hanya ditujukan bagi kendaraan-kendaraan bermesin diesel contohnya adalah truk, bus, alat berat, kendaraan angkutan barang, hingga mobil penumpang diesel yang sesuai dengan spesifikasi pabrikan.
Berbeda dengan Pertalite, Pertamax maupun jenis bensin lainnya yang digunakan untuk kendaraan bermesin bensin, B50 tidak cocok digunakan untuk kendaraan tersebut. Kehadiran B50 juga diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap BBM jenis solar.
Ketua DPRD Provinsi Jambi yaitu Hafis Fattah menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Pertamina terkait rencana-rencana distribusi B50 di Jambi. Menurutnya saat ini penyaluran masih memprioritaskan di sekitar Pulau Jawa namun dalam jangka waktu dekat akan mulai tersedia di Jambi.
Hafis meminta masyarakat agar bersabar menunggu proses distribusi B50. Ia menyebutkan berdasarkan target yang diterima, B50 akan mulai tersebar secara bertahap di seluruh SPBU di Jambi pada bulan ini. Dimana secara target akan tersebar secara merata di bulan September ini.
Kalau kita bertanya-tanya dengan teman-teman yang telah salurkan B50, hasilnya lebih baik dari B40 mulai dari bentuk fisiknya hingga dampaknya terhadap kondisi mesin, kata Hafis. Ia juga meminta masyarakat tidak perlu lagi merasa khawatir memakai B50 karena bahan bakar tersebut telah melalui serangkaian uji kelayakan sebelum dipasarkan secara luas.
Menurut Hafis, tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan SPBU menjelang penyaluran B50. SPBU hanya butuh mengosongkan tangki-tangki penyimpanan solar sebelum diisi dengan B50.
Di samping membahas distribusi B50, Hafis juga menyoroti maraknya penggunaan barcode BBM subsidi yang dinilai tidak sesuai peruntukannya. Ia mendorong pemerintah untuk melakukan penertiban terhadap kendaraan yang memakai barcode subsidi.
Menurut Hafis, barcode yang diberikan kepada kendaraan yang berhak membeli BBM bersubsidi. Oleh karena itulah pengawasan dan penertiban dinilai penting supaya penyaluran BBM subsidi tepat sasaran.
B50 berikan manfaat lingkungan dan juga ekonomi. Dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi, B50 bisa mengurangi emisi karbon dan juga kurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Di samping itu, penggunaan B50 juga diharapkan mampu mendukung pengembangan industri biodiesel di Indonesia khususnya di Provinsi Jambi. Pemakaian B50 juga memberikan dampak positif terhadap mesin kendaraan. Hasil uji kelayakan tunjukkan bahwa B50 lebih baik dibandingkan B40, baik dari segi kualitas fisik maupun dampak terhadap performa mesin.
Hal inilah yang menunjukkan bahwa B50 layak digunakan sebagai alternatif bahan bakar solar. Persiapan untuk distribusi B50 di SPBU cukup sederhana. SPBU hanya butuh mengosongkan tangki-tangki penyimpanan solar sebelum diisi dengan B50. Dalam hal ini tidak dibutuhkan peralatan tambahan atau modifikasi khusus. Proses ini menyebabkan distribusi B50 menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan.
Di samping itu SPBU juga diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat tentang penggunaan B50. Hal ini penting untuk pastikan masyarakat memahami kelebihan dan kegunaan B50 serta cara penggunaannya yang benar.***
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.