Plimbi.com - Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi deteksi dini pada tanaman cabai sebagai salah satu langkah awal untuk bisa ketahui serangan virus kuning atau pepper yellow leaf curl Indonesian virus (PYLCIV).
Mahasiswa ini memanfaatkan teknologi sensor bentuk multispektral dan machine learning untuk tujuan deteksi virus yang menyebabkan daun tanaman cabai berwarna kekuningan dan inilah yang menyebabkan cabai gagal panen.
Priamitra Aditiya Satriamukti, mahasiswa S1 Proteksi Tanaman yang ikut serta meneliti inovasi tersebut berkata timnya telah menguji coba pada 30 tanaman cabai di Cangkringan wilayah Sleman DIY. Lokasi di kaki Gunung Merapi ini cocok untuk pertumbuhan tanaman.
Cabai haruslah ditanam di lingkungan dengan memakai suhu harian yang normal, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah supaya menghasilkan daun sehat dan dapat dianalisis sebagai sampel, ujarnya, beberapa hari yang lalu.
Sekitar 15 tanaman ditumbuhkan secara sehat dengan melakukan perawatan rutin seperti penyiraman dan pemberian pupuk. Dimana separuhnya lagi diuji dengan menumbuhkan kutu kebul yang membawa virus kuning.
Analisis selanjutnya dilakukan memakai sensor multispektral dan machine learning. Hasil penelitian ini seratus persen menunjukkan kutu kebul membawa virus kuning dan ini bisa menularkan tanaman cabai sehat, ujarnya.
Daun dari masing-masing tanaman cabai selanjutnya diuji memakai polymerase chain reactions (PCR) untuk tujuan mengetahui status penyakit. Data dari masing-masing daun tersebut lantas diambil memakai sensor multispektral dan dilanjutkan dengan machine learning.
Menurut pendapatnya cara kerja sensor ini sebenarnya cukup mudah dilakukan yaitu dengan menjepit daun memakai alat multispektral selama beberapa detik (maksimal lima detik) hingga keluar grafik pembacaan.
Cahaya yang dipantulkan oleh daun berkarakteristik khusus bisa bermanfaat untuk bedakan kondisi tanaman cabai apakah sehat atau sakit (tertular virus kuning). Selama ini, cara deteksi penyakit khususnya virus kuning pada cabai masih dilakukan secara sederhana dengan secara langsung melihat kondisi daun. Pemanfaatan PCR butuh biaya yang besar dan butuh praktek kemampuan khusus.
Penelitian selama empat bulan ini sebenarnya untuk mengetahui sejauh mana sensor multispektral mampu mendeteksi tanaman cabai yang terserang virus kuning, pungkasnya.***
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.