Plimbi.com - Kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memicu banyak perdebatan di berbagai sub bidang.
Salah satu yang paling menonjol terdengar adalah anggapan bahwa AI membuat buku menjadi semakin tidak laku karena orang kini kecendrungan lebih suka memilih bertanya kepada chatbot daripada membaca ratusan halaman buku.
Sekilas, pendapat tersebut terdengar masuk akal. Kamu mengapa repot-repot beli sebuah buku 400 halaman bila sebuah pertanyaan AI dapat berikan jawaban dengan hitungan detik. Mengapa harus mencari referensi di perpustakaan jika informasi dapat diperoleh melalui satu pertanyaan sederhana?
Pertanyaannya adalah benarkah AI sedang membunuh buku? Ataukah sebenarnya yang sedang berubah adalah cara manusia dalam mengkonsumsi informasi?
Diketahui sebelum internet berkembang pesat seperti sekarang ini, beragam jenis buku merupakan salah satu sumber informasi utama. Jika seseorang ingin mempelajari psikologi, sejarah, bisnis atau kesehatan, pilihan paling logis adalah membeli buku atau mengunjungi perpustakaan.
Informasi memang tersedia tetapi tidak selalu mudah diakses. Oleh karena itulah buku mempunyai posisi yang sangat kuat sebagai penyimpan pengetahuan. Bahkan hingga awal tahun 2000-an ada banyak orang masih mengandalkan ensklopedia cetak untuk menjawab berbagai pertanyaan. Hari ini situasinya sudah berubah jauh.
Perubahan sebenarnya tidak dimulai sejak hadirnya AI. Transformasi sudah berlangsung jauh-jauh sebelumnya. Tahap pertama terjadi ketika internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang-orang mulai beralih dari buku ke mesin pencari. Jika ingin mengetahui sesuatu, mereka cukup membuka Google.
Tahapan selanjutnya adalah terjadi ketika video menjadi lebih populer. Banyak orang memilih menonton video 10 menit jika dibandingkan membaca artikel 2,000 kata. Kini muncul tahap baru, alih-alih mencari informasi melalui puluhan situs, pengguna cukup bertanya secara langsung ke AI.
Ini adalah semacam perjalanan yang menunjukkan bahwa yang berubah bukan hanya teknologi melainkan juga kebiasaan manusia dalam mencari informasi. Yang membuat menarik adalah para pembaca justru memakai AI berfungsi sebagai pintu masuk area buku. Misalnya seseorang bertanya buku psikologi terbaik untuk pemula apa saja? AI memberikan rekomendasi.
Pengguna kemudian membeli salah satu buku tersebut. Dalam kasus ini, AI tidak menggantikan buku. AI justru membantu mempertemukan pembaca dengan buku yang sesuai kebutuhannya.
Fenomena ini telah menunjukkan bahwa hubungan antara AI dan buku tidak selalu bersifat kompetitif. Seringkali keduanya justru saling melengkapi.
Benarkah AI membuat buku tidak laku? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. AI memang mengubah cara manusia mencari informasi. Ada banyak pertanyaan yang dahulu butuh buku-buku tebal namun kini bisa dijawab dalam hitungan detik. Namun buku dan AI sebenarnya melayani yang berbeda. AI memberikan jawaban cepat.
Buku memberikan pemahaman mendalam. Karena itu mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah AI akan menggantikan buku. Melainkan bagaimana manusia akan menggunakan keduanya secara bersamaan di masa depan.***
Sebab selama manusia masih ingin memahami dunia secara lebih dalam, buku kemungkinan akan tetap mempunyai tempat yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi apapun.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.