article

Mengapa Framework Lebih Banyak Digunakan Daripada Bahasa Native?

Mengapa Framework Lebih Banyak Digunakan Daripada Bahasa Native?

Halo teman-teman programmer semua! Pernah penasaran ga sih kenapa perusahan-perusahan IT tidak pernah ada yang memakai bahasa native untuk pengembangan aplikasi, dan pasti menggunakan Laravel atau framework berbasis PHP lainnya? Pasti ujung-ujungnya setelah belajar bahasa native harus belajar tentang framework seperti NextJs, VueJs, Laravel, React, dan semacamnya.

Mungkin bagi kalian yang masih baru di dunia pemrograman merasa sedikit tertekan dan frustasi ya, udah capek-capek belajar bahasa native dan sintaksnya yang dasar, eh ternyata standar nya harus pake framework. Ternyata itu semua ada alasan kuatnya loh, jadi bukan untuk keren-kerenan atau ikutan tren yang viral doang ya. Ada faktor-faktor penting seperti waktu dan efesiensi. 

Nah di artikel kali ini kita akan membahas dan membedah satu persatu alasan itu secara lebih dalam agar kamu paham kenapa framework jauh banyak digunakan daripada bahasa native.

ads

"Apa sih framework itu sebenarnya?"

Sebelum kita bahas alasannya, kita bahas dulu pengertiannya barang kali ada teman-teman yang belum mengerti. “Framework”, yang artinya “kerangka kerja”,  adalah sebuah kerangka dasar yang berbasis sebuah bahasa pemrograman. 

Kita ibaratkan dengan membangun sebuah rumah. Bahasa native itu ibaratnya kamu dikasih cangkul sama semen doang. Buat fondasi, kamu harus motong kayu sendiri, ngaduk semen sendiri. Apalagi kalau mau instalasi air, wah kamu harus gali tanah, tentuin jalur, dan pasang sendiri tuh pipanya satu persatu. Bahkan kalau ada bahan yang kurang, ya kamu sendiri juga yang harus cari.

Sedangkan framework, ibaratnya kamu sudah diberi rumah rakitan setengah jadi. Pondasinya sudah ada, kokoh lagi. Temboknya sudah standar, kalau mau instalasi listrik dan air sudah disediakan jalur dan pipanya. Pokoknya berbanding terbalik dengan bahasa native.

Di dalam sebuah framework, pastinya ada aturan-aturan (rules) dan alat-alat (tools) yang sudah disediakan oleh si pembuat framework tersebut. Kita ambil contoh framework berbasis PHP yang populer di Indonesia, yaitu Laravel. Framework ini memiliki struktur MVC (Model, View, Controller) Dengan struktur ini, framework menerapkan sebuah aturan: mana kode untuk urusan database (Model), mana kode untuk tampilan pengguna (View), dan mana kode untuk logika bisnis (Controller). Jadi sudah jelas dimana saja kode-kode itu disimpan, enggak berantakan di satu folder.

"Terus, kenapa perusahaan ga ada yang pake bahasa native?"

Alasan utamanya adalah standarisasi dan efesiensi dalam kerjasama tim.

Framework pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk membuat standard kerja yang jelas dalam perancangan dan pembuatan aplikasi. Di dunia kerja, jarang sekali perancangan dan pembuatan aplikasi hanya dikerjakan oleh satu orang, dan biasanya dikerjakan dalam sebuah tim yang berisi beberapa anggota.  

Nah bayangkan di tim tersebut ada tiga anggota, anggota A sering ngebuat koneksi ke database di koneksi.php, anggota B dan C sering ngebuat koneksi ke database di config.php. Style penulisan kode mereka pun berbeda-beda. Kalau si A ini resign, si B dan C juga bakalan resign karena bakalan pusing banget ngebaca kode yang dibuat oleh si A karena berbeda banget dengan apa yang mereka buat sendiri-sendiri.

Dengan framework, hal ini bisa diminimalisir. Karena sudah ada struktur yang baku, programmer tidak perlu repot-repot menebak struktur kodenya. Mereka hanya tinggal mengikuti aturan yang sudah disediakan.

"Ada alasan lainnya ga?"

Tentunya ada dong! Selain alasan keefektifan, framework juga digunakan karena alasan keamanan. 

Kita ambil contoh lagi dengan bahasa pemrograman PHP. Salah satu framework PHP yaitu Laravel sudah dilengkapi sistem keamanan canggih secara bawaan (karena sudah termasuk framework modern harusnya sudah standard).

Contohnya SQL Injection Protection (via Eloquent ORM) yang mencegah serangan database, dan Cross-site Request Forgery (CSRF) Protection yang mencegah eksekusi perintah palsu dari user yang tidak memiliki akses. Ada juga perlindungan terhadap Cross-site scripting (XSS) yang otomatis menyaring script-script berbahaya.

Kalau pakai PHP Native, fitur keamanan ini tidak tersedia secara otomatis. Kita harus rajin menggunakan fungsi manual seperti htmlspecialchars(), atau membuat token validasi sendiri. Masalahnya, kalau kita lupa sekali saja, aplikasi perusahaan bisa jebol. Bikin capek dan was-was sendiri kan kalau pake bahasa native?

"Loh kalau gitu sia-sia dong belajar bahasa native?"

Eits, pikiran kayak gitu tolong buang jauh-jauh ya, artikel ini bukan buat ajakan menelantarkan pembelajaran bahasa native. Sama kayak belajar skill-skill lainnya, pemahaman dasar itu penting banget sebelum kamu bisa lanjut ke tahap selanjutnya. Kamu ga bakal paham apa itu Eloquent di Laravel kalau belum tahu perintah dasar SQL dan implementasinya di PHP.

Gini deh, ibaratnya ada orang mau nyobain deep diving, tapi belajar renang aja dia belum pernah, udah ketebak kan nasib orang itu? 

Penutup

Nah, gimana? Sekarang sudah tahu kan kenapa framework jauh lebih banyak digunakan dibandingkan bahasa native di industri profesional? Dari mulai standarisasi kode sampai dengan sistem keamanan.

Dengan adanya framework jadi mempermudah banget nih untuk para programmer mengembangkan aplikasinya. Sekian untuk artikel kali ini ya, semoga bisa menjadi wawasan yang berguna bagi kamu. Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya!

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads