article

Sejarah Microtransaction dalam Dunia Game

Sejarah Microtransaction dalam Dunia Game

Kalau ngomongin dunia game modern, hampir semua orang pasti udah akrab sama yang namanya microtransaction. Entah itu buat beli skin hero favorit di Mobile Legends, gacha karakter baru di Genshin Impact, atau sekadar nambahin coin biar bisa upgrade stadion di FIFA Ultimate Team. Tapi pernah kepikiran nggak sih, gimana awalnya microtransaction ini muncul sampai akhirnya jadi salah satu tulang punggung industri game dunia?

Sebenarnya konsep microtransaction udah ada sejak lama, bahkan sebelum game mobile jadi hype kayak sekarang. Di awal tahun 2000-an, beberapa game online di Asia, khususnya Korea Selatan dan Tiongkok, udah mulai ngenalin sistem ini. Contoh paling terkenal tentu aja MapleStory, yang rilis tahun 2003. Game ini gratis dimainkan, tapi kalau pemain mau punya kostum keren atau item unik, mereka harus keluarin uang beneran. Model kayak gini ternyata sukses besar, dan bikin developer sadar kalau ada cara lain buat dapetin duit selain jual game secara penuh.

Sejarah Microtransaction dalam Dunia Game

ads

sumber: nexon.com

Perkembangan di Konsol dan PC

Nggak lama setelah itu, perusahaan besar juga mulai ngikutin tren. Microsoft misalnya, lewat Xbox Live Marketplace di tahun 2005, ngasih pilihan buat beli konten tambahan kayak avatar, map, atau kostum. Waktu itu banyak gamer yang agak kaget, soalnya biasanya kalau beli game ya sudah lengkap. Tapi ternyata langkah ini jadi awal dari berkembangnya DLC kecil-kecilan yang bisa diunduh, dan dari sanalah microtransaction mulai jadi topik serius.

Ketika smartphone mulai booming di akhir 2000-an, istilah freemium mulai naik daun. Game bisa diunduh gratis, tapi kalau mau cepat progresnya atau punya item tambahan, pemain harus bayar. FarmVille, Candy Crush Saga, Clash of Clans dan Angry Birds jadi contoh nyata gimana microtransaction bisa bikin game gratis jadi mesin duit. Orang-orang rela beli energi tambahan atau booster biar nggak usah nunggu lama.

Evolusi Model Microtransaction

Dari situ, microtransaction makin berkembang pesat. Awalnya memang sebatas DLC sederhana, tapi lama-lama berubah jadi lebih kompleks. Muncullah sistem loot box yang isinya random, diadaptasi dari budaya gacha di Jepang. FIFA dengan Ultimate Team pack, Overwatch dengan loot box skin, semua bikin pemain penasaran dan akhirnya sering keluar duit berulang kali. Walaupun seru, sistem ini sempat dikritik karena dianggap mirip judi, bahkan ada negara yang melarangnya.

Belakangan, tren microtransaction makin beragam. Fortnite lewat sistem battle pass sukses bikin model baru yang dianggap lebih fair. Pemain bayar sekali untuk satu musim, lalu bisa buka hadiah eksklusif dengan cara main rutin. Berbeda sama loot box yang serba untung-untungan, battle pass dianggap lebih transparan karena semua hadiah jelas terlihat dari awal.

Microtransaction di Game Mobile

Kalau kita lihat sekarang, hampir semua game populer, khususnya di mobile, bergantung pada microtransaction. PUBG Mobile, Genshin Impact, sampai Mobile Legends, semuanya gratis dimainkan tapi penuh dengan opsi belanja skin, karakter, atau item khusus. Buat sebagian orang ini menyenangkan, karena bisa punya kostum keren atau karakter favorit. Tapi buat sebagian lain, microtransaction sering dianggap jebakan. Nominalnya memang kecil, cuma belasan atau puluhan ribu rupiah. Tapi kalau ditotal selama berbulan-bulan, bisa jadi angka jutaan tanpa sadar.

Kontroversi dan Dampak Besar

Kehadiran microtransaction di video game ini tentu saja menimbulkan kritik dari berbagai pihak, Mulai dari pemain yang mengeluh game mereka jadi tidak seimbang karena sistem Pay-to-Win, Player yang mengalami masalah kecanduan mengeluarkan uang untuk game, dan lain-lain

Meski sering jadi bahan kontroversi, microtransaction jelas nggak bisa dipisahin lagi dari industri game. Sistem ini udah jadi tulang punggung ekonomi digital. Banyak game free-to-play justru lebih sukses daripada game premium berkat microtransaction. Bahkan ada laporan kalau Genshin Impact berhasil meraup lebih dari satu miliar dolar hanya dalam tahun pertamanya, semua itu hampir sepenuhnya dari transaksi pemain.

Kesimpulan

Jadi kalau ditarik garis besarnya, microtransaction lahir dari eksperimen sederhana di Asia, berkembang lewat konsol besar, meledak di era smartphone, dan sekarang jadi standar dalam hampir semua game online. Walaupun kadang bikin gamers kesal dengan isu pay-to-win atau loot box yang mirip judi, kenyataannya model bisnis ini udah mengubah wajah industri game selamanya. Bisa dibilang, tanpa microtransaction, banyak game modern yang kita mainkan sekarang mungkin nggak akan ada dalam bentuk yang kita kenal.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads