article

Klasik, Ini Alasan Orang Berwisata ke Jogja

Klasik, Ini Alasan Orang Berwisata ke Jogja

Yogyakarta adalah kota yang menarik bagi wisatawan dalam negeri serta mancanegara. Kota ini memiliki keindahan pegunungan hingga pantai. Kota ini juga menyimpan tradisi budaya yang cukup kental.

Tetapi, jika ingin diurut lebih panjang, kota ini adalah kota yang telah memberi warna bagi banyak orang. Para pelajar serta para mahasiswa yang dahulu pernah bersekolah dikota ini banyak yang sudah tinggal dikota lain. 

Mereka, suatu hari pastilah ingin mengenang kembali kota yang pernah ditinggalinya. Inilah sebabnya Yogyakarta selalu mendapatkan kunjungan wisatawan dari seluruh penjuru nusantara. 

ads

Klasik, Ini Alasan Orang Berwisata ke Jogja

Alasan yang sama juga membuat kota Jogja menjadi tujuan kunjungan wisatawan saat libur lebaran. Sebagian turis itu memang mudik ke kampungnya di jogja. Tetapi, sebagian lagi mungkin hanya ingin bernostalgia. 

Kemudian, mereka membawa serta keluarganya. Beserta anak serta keluarga besarnya juga, mungkin?
Kemudian, sebagian dari keluarga besar ini ingin kembali berkunjung ke Yogyakarta. Semakin lama, kunjungan wisatawan menjadi semakin bertambah. 

Anak — anak mereka kemudian mengajak teman — temannya untuk berkunjung ke Jogja juga. Dan begitu seterusnya. Kota inipun juga lumayan berkembang. Sekarang banyak hotel baru dibangun. Banyak juga tempat wisata direnovasi supaya lebih indah. banyak juga tempat wisata baru yang bermunculan. 

Meskipun begitu, masih banyak nuansa yang sama dengan 10 tahun yang lalu. Alun — alun utara kota Jogja beserta Kraton Yogyakarta masih berdiri tegak dengan kharisma serta romantisme yang sama. 

Klasik, Ini Alasan Orang Berwisata ke Jogja

Malioboro masih tampil dengan kesan tradisionalnya. Dan kini, semakin ramah dengan pengunjung. Trotoar yang dahulu sesak kini menjadi ramah bagi pejalan kaki. Tempat yang dahulu merupakan tempat untuk berebut lahan parkir bagi petugas parkir, kini menjadi deretan kursi — kursi panjang. Kini, turislah yang memadati area trotoar ini. 

Mereka membawa kamera, memakan camilan atau sekedar menikmati suasana malam di jantung kota Jogja. 

Mereka lalu lalang diantara ratusan toko — toko di jalan sepanjang 2 km ini. Dengan trotoar lebar, turis merasa lebih nyaman berjalan — jalan. Dari sisi utara, yang dipenuhi pedagang lesehan serta hotel, mereka menyusuri jalan ke selatan. Menuju ke Benteng Vredeburg, menuju ke titik nol KM kota Yogyakarta. 

Mungkin mereka akan berbelok masuk ke Benteng Vredeburg. Yah, karena rombongan besar manusia lain juga berbelok masuk kesana. Musium ini, kini buka pada malam hari. Minimal punya coffee shop yang buka malam hari. 

Tak ada kesan museum disini. Bentuk bangunannya memang seperti bangunan Belanda lama. Tetapi, tempatnya lebih instagramable. Terawat dan tidak memalukan untuk berselfie. 

Besoknya, siang hari menjadi jadwal untuk menikmati berbagai tempat lainnya. Di Kaliurang, kini tampil lebih banyak atraksi wisata. Banyak spot wisata baru, meskipun yang lama masih menyimpan kenangan serta romantisme tersendiri.

Klasik, Ini Alasan Orang Berwisata ke Jogja

Beberapa tahun yang lalu, ada yang namanya “wedhus gembel†yang muncul di sekitar puncak gunungnya. Ini adalah sebutan untuk awan panas yang keluar dari gunung ini saat meletus. 

Awan hitam ini membawa pasir, debu dan panas yang luar biasa. Ia menerjang cepat hingga 100 km/ jam dengan mengirim panas yang membakar tanaman di kebun, hutan dan rumah — rumah yang dilewatinya. Kini, semua itu tidak bersisa lagi. lereng gunung gundul terbakar. Ditimpali material pasir dan batu hasil letusan gunung. 

Kini, tempat — tempat itu sudah tidak ditinggali lagi. pemerintah melarangnya. Tetapi, penduduk tetap datang, mereka tetap beraktifitas disana. Tetapi, bukan lagi di kebun. Sebagian dari mereka menemukan “mainan†baru. Mereka mengantarkan para turis ini dengan jip menjelajah bekas — bekas keganasan gunung ini, sekaligus menikmati keindahannya. 

Mereka menyusuri jalan — jalan setapak, padang rumput serta hutan. Hutan yang pohonnya masih muda, baru tumbuh beberapa tahun belakangan. 

Mereka menyusuri sungai — sungai dan berhenti diantara bebatuan. Sambil menunggu para turis turun atau berfoto disana. 

Yogyakarta masih menyimpan romantisme bagi para turis ini. Nostalgia ini kini mereka tularkan kepada anak — anak mereka, keluarga serta teman — teman kantor mereka. 

Bertahun -tahun yang lalu, mereka berkunjung ke pantai Parangtritis. Ini adalah salah satu objek wisata pantai terkenal saat itu. Laut lepas dengan perbukitan indah dibelakangnya. 

Jaman dahulu, Jogja cuma punya sedikit pantai untuk wisatawan. Garis pantai lain hanya dikunjungi penduduk dan pemancing. Kini, hampir semua garis pantai menjadi pantai wisata. Dahulu, jalan menuju pantai — pantai ini buruk. Jalan berpasir, ban sepeda motor pasti terbenam. Mereka, para pemancing itu pasti sering turun dari motor, mendorong motor mereka sambil memutar gas cukup keras di gigi satu. Untuk mengalahkan pasir pantai tentunya. 

Kalau mobil bagaimana?

Biasanya sih, mobil tidak masuk kesana. Jalannya sempit dan ada pohon semak disisi kiri kanannya. kalau memang sudah kaya sekali boleh saja maksa. Paling baret dan kepater. Nggak fatal kok.

Sekarang, hampir semua jalan telah beraspal. Dari pantai yang ada dibarat hingga timur Jogja hampir semua tersambung jalan aspal. Ada juga beberapa orang yang mencari peruntungan disini. Kalau membuat tambak sih, sepertinya alami untuk mereka yang tinggal di pinggir pantai. Tetapi ada juga diantara mereka yang membuka atraksi wisata dengan taman bunga atau lainnya.

Sekarang, kalau bicara soal buka membuka usaha. Ada juga seorang pahlawan yang jasanya sangat besar bagi masyarakat. Saat itu, tahun 2010 ada seorang mahasiswa pascasarjana UGM yang menanam bakau di pantai di wilayah paling barat propinsi DIY. Beliau berniat untuk melakukan penelitian disana. 
Sekarang, pohon — pohon bakau ini sudah besar dan banyak. Hasilnya adalah wisata hutan bakau.

Ini hal baru di Jogja. Masyarakat menyukainya. Mereka membuat jembatan bambu untuk menikmati pepohonan bakau. Jembatan, karena ada bagian panjang yang berada diatas laut. 

Jembatan ini menjadi tempat selfie bagi para milenials. Meskipun, rombongan keluarga juga selfie disini. Dan peluang inipun ditangkap oleh para nelayan. Mereka mengantarkan turis berkeliling dengan perahu motor disekitar hutan bakau. Dari laut. 

Sayangnya, saat mencari jati diri pahlawan wisata ini, kami kesulitan menemukannya. Tidak ada foto atau nama jelas yang tertera, minimal di internet. 

Bicara soal baru, beberapa tahun sebelumnya juga ada yang namanya gua Pindul. Gua ini dahulu hanya gua kelelawar biasa yang akhirnya dipopulerkan melalui internet. saat itu, melalui berbagai website karena Instagram belum ada. Facebook sudah ada tetapi Instagram belum berdiri atau Instagram belum dibeli Facebook. 

Soal nostalgia, tempat — tampat baru ini mungkin bukan tempat yang penuh kenangan. Tetapi memang penuh keindahan. Dari mulai waduk di perbukitan hingga air terjun di pegunungan, semua menawarkan suasana yang sama Jogjanya dengan tempat lain. 

Kini, romantisme serta nostalgia para eksekutif di berbagai daerah ini telah bercampur dengan dinamika serta keceriaan kaum milenials. Berbagai tempat yang dahulu memberi kesan mendalam berubah menjadi trendy di Instagram mereka. 

Kini, berbagai kenangan dan keindahan itu bercampur menjadi berbagai warna. Di capture serta di-share oleh berbagai usia. Oleh mereka yang ingin bernostalgia serta oleh mereka yang muda dengan dinamikanya. 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads