Â
Di sisi lain, dengan banjir informasi, apakah sebagai generasi melek internet, kalian juga peduli untuk sekadar cek-ricek kesesuaian kata-kata dengan makna yang digunakan sehari-hari? Atau cuma asal nyeletuk yang penting lawan bicara paham?
Kenapa Ada Salah Kaprah dalam Berbahasa?
Ternyata, ini punya efek yang jelek ke penggunaan Bahasa Indonesia itu sendiri. Kita jadi sering abai saat berbahasa Indonesia karena merasa sudah bisa (dan biasa) menggunakannya. Kita suka malas buka kamus saat menemukan kata yang artinya belum diketahui atau diketahui tapi berdasarkan dugaan semata. Ini baru buta makna kata, belum buta tata bahasa dan tetek bengek lainnya. Akhirnya, kebutaan ini telanjur menjadi kebiasaan padahal salah kaprah. Tidak hanya di level individu saja, di institusi pemerintah hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat memperhatikan penggunaan bahasa, salah kaprah banyak terjadi.
Salah Paham atau Salah Kaprah?
Ajip Rosidi, seorang bahasawan dan juga sastrawan tersohor, pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Baginya, salah kaprah itu berbeda dengan salah paham (salah kaprah sering digunakan untuk maksud salah paham). Salah kaprah berarti sebuah kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga dianggap kaprah (biasa;lumrah) atau dianggap kelaziman.
Â
1. Tegar
Semoga keluarga yang ditinggalkan dalam musibah ini menjadi tegar.
Pada awalnya (cek Kamus Umum Bahasa Indonesia, karya W.J.S Purwadarminta), kata tegar berarti keras kepala, kepala batu dan ngeyel. Namun, entah sejak kapan kata ini bertambah makna (jadi dua makna) yaitu tabah; kuat; sabar. Padahal makna kedua ini bertolak belakang dengan yang pertama. Entah kenapa pula dalam keseharian makna yang lebih sering beredar makna yang kedua seperti pada kalimat contoh di atas.
Â
2. Ubah vs rubah
Aku Mau (Once)
Kau boleh acuhkan diriku
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
KepadamuÂ
Apa yang janggal dari lirik salah satu lagu yang pernah hits di radio ini? Ada apa dengan kata ubah?
Ya, dalam bahasa formal atau informal, seringkali kata ini dieja dengan kata rubah atau merubah. Ketika kata ini diberi imbuhan me-, kata yang terbentuk adalah mengubah (me+ubah=meng+ubah) dan bukan merubah. Merubah bisa saja berarti menjadi (seperti binatang) rubah. Gue menduga ini disebabkan karena salah paham saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi bentuk melakukan atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dalam pengamatan gue, kesalahan ini acap dilakukan oleh para orang tua kita.
Â
3. Absensi vs presensi
Absensi Kehadiran Peserta Seminar Pembangunan Infrastruktur Indonesia
Apa yang keliru dari tulisan itu? Ya, betul. Yang keliru adalah penggunaan absensi yang disertai dengan kata kehadiran. Absen dipungut dari bahasa Belanda (absent), berarti tidak hadir atau tidak masuk. Jadi, kalau absensi digabung dengan kehadiran maka akan jadi arti yang beza, kalau kata orang Malaysia, dan bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya dihilangkan.
Namun begitu, penggunaan kata mengabsen (pemanggilan daftar hadir agar tahu mana yang hadir dan tidak) atau absensi(daftar ketidakhadiran) sah-sah saja digunakan.
Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir
Â
4. Acuh
Gelandang Manchester United Nani mulai menunjukkan sikap acuh terhadap klubnya. Pemain internasional Portugal tersebut terlihat tidak perduli saat klubnya Kamis dinihari tadi melakoni pertandingan "hidup dan mati".Â
Kata "acuh" merupakan kata paling sering disalahartikan. Bagi sebagian penutur, acuh itu berarti cuek dan tidak perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti peduli; hirau; ingat; indah; hisab. Jadi kalau kalimat: dia sudah mengacuhkanku lagi berarti dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dengan frasa acuh tak acuh? Ya, berarti itu berarti peduli-tidak peduli atau terkadang perhatian dan terkadang tidak.
Â
5. Geming
Di saat ia menembak gue, tubuh gue jadi grogi, diam tak bergeming. Â
Selain acuh, kata geming termasuk yang sering salah tempat. Coba bayangkan, kata yang berarti diam dan tak bergerak ini dijadikan ke dalam kalimat di atas. Jadi, apa coba artinya? Diam tak diam? Padahal maksudnya itu kan diam dan tak bergerak. Hal serupa juga ditemukan dalam tautan (link) berita berikut.
Si wartawan tentu ingin menyampaikan bahwa politikus Partai Amanat Nasional ini diam (tenang-tenang saja) saat isu jabatan rangkap ini bergulir ke publik
Semoga bermanfaat!
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.