"kurang kerjaan banget sih ni orang!!!" ucap Salsa sambil menghempaskan sebuah kertas di kursinya.
"Masa' sih kamu gak tau siapa yang nulis surat ini, kamu kan selama ini yang ngurus mading No". desak Salsa.
ÂÂ
sementara Rinno hanya bisa menggaruk kepalanya. dia benar-benar tidak tahu siapa yang membuat puisi cinta untuk Salsa itu.
"iya nanti coba aku cari tau ya Sa,!" ucap Rino.
Sementara Salsa langsung pergi meninggalkan Rino, ia bahkan tidak tersenyum seperti biasa.
Rino hanya mengangkat bahunya. Ingin sekali rasanya dia membantu, namun apa boleh buat dia benar tidak tahu tentang puisi cinta itu.
Sementara bell pulang sekolah sudah berbunyi.
Rino berkemas dari ruang mading di sekolahnya, dari kejauhan ia melihat Ciko duduk sambil memandang ke arah mading. namun tidak ada yang aneh menurut Rino, Ciko adalah anak kutu buku yang selalu menunggu-nunggu berita horoskop dan selalu menyempatkan diri saat jam pulang. dasar kutu buku.
ÂÂ
***
Pagi itu hari sabtu. Lagi-lagi Rino harus mengdenyitkan dahi melihat beberapa kertas puisi cinta untuk Salsa. dan selalu tampa identitas pengirim. Kalimat-kalimatnya sangat indah. Rino selalu ingin memposting naskah ini. Bukan karena niat jahil untuk mengerjai Salsa, tapi benar kalimatnya sangat indah.
ÂÂ
Tapi, untuk menghindari amukan Salsa, akhirnya Rino memutuskan untuk tidak memposting naskah itu.
Kalau boleh jujur Rino juga sebenarnya sangat menyukai salsa. Tapi entah bagaimana dia tidak pernah tau bagaimana cara mengekpresikan perasaannya.
ÂÂ
"Rino, gimana?" suara itu. jantung Rino sejenak tertahan. Ia ingin menyembunyikan naskah tersebut. Tapi sudah terlanjut diketahui oleh Salsa.
"embhh..Sa, ..."
"katanya kamu mau cari tau? siapa?"
"eee... sa, sory, aku belum tau."
salsa memandang Rino dalam, matanya berkaca-kaca.
"No, itu kamu kan yang bikin?"
Bagai tersambar petir, rino bingung harus berkata apa. Dia benar-benar tidak bersalah dalam hal ini tapi justru dia yang menjadi korban.
"sa, aku gak buat naskah itu. kurang kerjaan tau buat aku. buat apa pakai puisi segala kalo aku bisa bilang langsung."
"haa...apaan?"
Rino benar2 bingung. Ternyata pernyataannya tersebut adalah bumerang. Rino hanya terdiam.
Meliahat reaksi rino yang mati kutu, salsa benar2 murka.
"dasar pengecut!!!!!" ucap Salsa langsung keluar dari kelas Rino.
ÂÂ
Tiba-tiba "braakkkk!!!"
Suara tambrakan, terdengar suara buku berserakan, begitu juga suara salsa terdengar mengaduh. Rino langsung keluar kelas menuju lokasi tabrakan.
Melihat Rino menyusul Salsa langsung pergi meninggalkan lawan tabrakannya yaitu ciko.
Buku ciko berhamburan, kaca mata ciko terlepas. Ciko merayap mencari kaca matanya. Rino membantu Ciko dengan mengambilkan kaca matanya yang terlempar cukup jauh dan membantu ciko berdiri.
ÂÂ
Namun alangkah terkejutnya Rino saat menbantu Ciko mengemasi bukunya. Rino menemukan beberapa naskah yang sama sperti yang ada di mading.
Bahkan hal yang mengrjutkan tulisan tangannya sama seperti yang ada di mading.
"Cikoo.. jadi selama ini kamu....."
"enggak no, bukan..." kalimat ciko terhenti. kakinya gemetar, ia tampak sangat ketakutan. sementa semua mata di teras kelas itu menatap ke arah mereka.
ÂÂ
Sementara rinno mengerutkan dahinya. dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan ciko.
"enggak kok no, maaf ya itu emang aku"
ciko selalu tertunduk kebawah. seakan-akan dia tidal berani menghadapi sekitar yang tersorot padanya.
ÂÂ
Rinno menarik nafas panjang. dadanya terasa ringan. akhirnya dia tahu siapa dalang dari semua ini.
"memangnya kamu suka dengan salsaa?"
tampa jawaban Ciko terdiam. kepalanya masih tertunduk. seakan semua mata yang memandang akan segera membunuhnya jika ia mengankat kepalanya.
ÂÂ
Ciko kemudian mengambil semua bukunya dan segera meninggalkan lokasi. perlahan suasana kembali seperti semula. Rinno hanya tersenyum geli menyadaro seorang kutu buku ternyata juga memiliki perasaan. meskipun cara mereka sedikit norak dan tidak biasa.
ÂÂ
***
bell pulang berbunyi, Rinno seperti biasa pulang lebih lama. karena ia harus menyiapkan mading yang kebetulan ada bagian yang harus setiap hari di ganti.
tapi hari ini dia tidak menemukan ciko yang biasa berada di depan mading. mungkin karena kejadian tadi pagi sehingga ciko pulang lebih awal. tidak biasa.
ÂÂ
Saat menuju ke mading yang berada di depan gerbang masuk sekolah bagian dalam. rino akhirnya mendapati ciko. namun agal jauh darinya. ciko di luar gerbang luar sekolah. dia berbincang-bincang dengan seseorang, namanya Tio. expresi ciko sama saat ketika ia mengakui kesalahannya dia KETAKUTAN.
Tio berbicara seperti mengancam- ancam. sementara Ciko hanya manggut- manggut ketakutan. melihat pemandangan yang tidak mengenakan ini Rino bermaksud untuk menghentikan Tio. Tapi terlambat pembicaraan mereka sudah sekesai. dan tio meninggalkan ciko.
sontak pemandangan itu membuat rino penasaran. ingin rasanya ia menanyakan langsung kepada ciko.
tapi dia urungkan karena Pak Ben memanggilnya.
"rinoo..."
"iya pak"
"kesini kamu!!"
"Apa maksud ini?". tampak pak ben memberikan sebuah kertas.
kertas itu berisi puisi cinta untuk salsa. ahh lagi- lagi ada puisi cinta.
melihat itu, rino langsung menoleh ke arah tempat ciko tadi. tapi ciko sudah tidak ada.
"bapak nemuin ini dari mana?"
"di meja kamu kebetulan saya lagi cek kelas nemuin ini".
tapi ada hak janggal dari puisi itu, tulisannya berbeda dengan tulisan Ciko di kertas sebelumnya.
"berarti, ada dua orang di balik kertas puisi cinta ini. tapi siapa?"
Rinno benar-benar bingung. Ia masuk ke dalam masalah yang jelas-jelas bukanlah masalahnya. ia berjalan gontak, otaknya terus beroperasi menyatukan semua yang terjadi hari ini. namun tak ada satupun yang menghasilkan jawaban.
***
Pagi ini cukup cerah, seperti biasa saat Rinno sampai di kelas, mejanya selalu tergeletak selembar surat cinta untuk salsa.
Bosan dengan kejadian itu Rinno langsung mengabil kertas itu dan menemui ciko.
Saat bertemu Ciko, dia langsung menyeret Ciko ke depan Salsa. Pas kebetulan saat itu Salsa lagi di kantin dengan sahabatnya Tasya dan Susi.
"nih sa, yang ngirim surat ke kamu itu!!!"
Salsa terperongok. dia benar-benar tidak percaya bahwa ciko lah biang kerok dari masalah selama ini..
sementara wajah ciko memucat dia benar-benar ingin berbicara tapi entah bagaimana seakan mulutnya terkunci dan matanya tertunduk kebawah.
salsa berdiri,
"benar ciko?"
"i.. iy... iyaa sa.. ma..maffin aku sa.."
dia benar2 kelihatan takut.
"blakkkkkk" tamparan salsa ke meja.
"tau diri dong ciko, kamu tuh kutu buku. mana mungkin aku suka sama kamu. sadar!!! ngaca!!! dasar gak tau diri!!!"
"sa,...." potong rinno
"kamu itu cik.... " terhenti. Ciko mengeluarkan air mata.
ÂÂ
"eh cupu nangis kamu!!" lanjut salsa. salsa benar mencerca ciko habis2an.
ciko pun pergi meninggalkan kantin, semua mata mengarah ke arahnya.
"lari kamu yang kencang!!!!" ucap salsa puas.
"thanks ya no." ucap salsa tersenyum ke rinno.
sementara mata rinno dengan sayu menatap ke arah salsa. tak ada senyum di wajah rinno. salsa bingung dengan semua ekpresi Rinno.
"no kamu kenapa?" tanya salsa. kini semua mata mengarah kemereka berdua. Rinno hanya tersenyum masam ke Salsa dan langsung pergi.
dia benar-benar tidak menyangka kalau akan seperti ini.
Rinno sangat mengerti perasaan Ciko. Bagaimana rasanya dipermalukan oleh gadis yang dia cintai. bahkan di tempat umum. rinno merasa bersalah dan menyesal karena dialah yang membawa ciko ke depan salsa.
"oh ya dimana ciko. aku harus minta maaf ke dia."
rinno pun langsung mencari Ciko.
***
jam pulangpun tiba, dia benar2 tidak fokus dalam pelajaran tadi. pikirannya terfokus ke ciko. apa kabar ciko? apakah ciko trauma? sekarang apa yang dilakukan ciko. saat bel pulang ia langsung keluar kelas. menuju kelas ciko namun kelas itu sudah kosong. dan hampir setengah jam dia menelusuri sekolah dia sama sekali tidak menemukan Ciko. Namun, ia tetap mencari.
dan usahanya ternyata membuahkan hasil. saat melintas di sekitar gudang dia mendengar suara ciko.
"a..a..ampun bet. ampun.."
" awas ya sampai bocor. kalo bocor, aku bocirin juga kepala mu. okey!!!" ancam robet.
Rinno melihat Robet tengah menggenggam kerah baju ciko.
"ada apa lagi ini. ada maslah apa antara ciko dan robet?" pikir Rinno.
Bersambungâ¦.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.