article

Yahudi Marah Ketika Melihat Karya Seni Ini

Yahudi Marah Ketika Melihat Karya Seni Ini

Sebuah patung yang dibuat seniman Spanyol telah membuat geram kaum Yahudi dan Israel. Pasalnya, patung itu menggambarkan seorang rabbi yang berdiri di atas pundak seorang pendeta yang berlutut di atas seorang pria yang tengah bersujud di atas sejadah.

Selain itu, seperti dilansir Barcelona Reporter, seniman yang kontroversial tersebut membuat karya seni berbentuk menorah atau tempat lilin umat Yahudi. Hanya saja, menorah itu ada di moncong sebuah senjata mesin Uzi. Sementara karya seni berbentuk patung yang diberi nama Stairway to Heaven (Tangga Menuju Surga) itu berbentuk tiga orang yang saling bertumpu.

Patung paling bawah menampilkan orang yang tengah shalat. Di atasnya ada seorang pendeta yang tengah berlutut di punggungnya. Sementara di atas pundak pendeta itu, seorang rabbi berdiri dengan memegang Taurat. Patung yang dipajang di International Art Fair (ARCO), Madrid itu dibuat dengan menggunakan silikon dan rambut manusia, sehingga terlihat seperti sangat hidup.

ads

Seorang kolektor seni Eropa kemudian membeli patung itu seharga 50.000 euro. Hal itu memicu protes keras dari warga Yahudi dan Kedutaan Besar Israel di Spanyol. Mereka menyebut pesan-pesan yang disampaikan melalui karya seni itu sangat menyinggung dan memicu sentimen antisemit, meskipun disampaikan lewat karya seninya.

Makna filosofi yang lebih dalam itu dipahami setelah salah satu seorang Yahudi tidak suka dengan karya seni itu. Dia pun marah. Ceritanya begini:

Ada seorang yahudi tidak suka melihat "seni" ini, lalu seorang nasrani bertanya :

"Kenapa Anda tidak suka..?? Padahal nasrani dan yahudi berada di posisi yang paling atas?"

Orang Yahudi itu pun menjawab :

"Kalau umat Islam itu bangkit, pasti kita semua akan jatuh." (Renungkan...!)

Yahudi Marah Ketika Melihat Karya Seni Ini

Bayangkan saja, gambar dilihat sepintas –secara zhahir- Islam memang di bahwah dengan arti dilecehkan. Namun, ketika Islam yang ada di bawah dalam keadaan sujud, kemudian bangkit dari sujudnya, tidak perlu bangkit sampai berdiri, cukup bangkit untuk duduk tawarruk, secara otomatis, Yahudi dan Nasrani yang ada di atas akan jatuh tersungkur.

Satu hal lagi, posisi Islam yang dalam keadaan sujud di atas. Sujud selain rukun shalat, juga merupakan inti dari shalat. Karena sujud sebagai posisi yang paling puncak dari wujud penghambaan. Dengan sujud berarti kita memasrahkan diri kita secara penuh hanya kepada Allah, mengagungkan akan Maha Tingginya Allah, dan menempatkan segala apa yang ada pada diri kita berada di bawah kekuasaan Allah.

Jadi, segala apapun yang kita lakukan, ketika semuanya karena dan demi Allah, pasti kita tidak akan pernah bisa dimusnahkan oleh mereka. Meski, yang katanya kecanggihan teknolgi diciptakan untuk merusak dan menghancurkan Islam, tapi ketika kita mampu membalikkan tujuan itu, maka teknologi tidak akan menghancurkan kita. Semisal, kecanggihan computer dan internet digunakan untuk kepentingan ajaran Islam, maka tujuan penghancuran itu menjadi manfaat bagi kita. Begitu juga, dunia politik yang sistemnya dimainkan oleh mereka, ketika kita mampu bermain dengan niat dakwah mengembangkan Islam semata, maka tujuan itu bisa kita balik menjadi media bermain yang akan mengalahkan mereka.

Tapi yang pasti ketika cara kita tidak digerakkan secara bersama, maka cara itu hanya akan menjadi tetesan air tawar yang berusaha mengubah air asin di lautan. Intinya, kita harus bersatu. Bersatu bukan dalam atau atas nama kelompok atau golongan, melainkan bersatu dalam barisan sujud yang kemudian bangkit secara berjamaah. Sujud artinya kita kembali pada tauhid kita, bersatu padu dalam panji la ilaha illallah.

Maka, orang-orang Islam yang berpolitik karena politik sekarang menjadi satu-satunya alat yang kuat untuk bisa menandingi mereka-, kepentingan politiknya harus karena dan demi Islam, bukan kepentingan pribadi dan golongannya.

Menghancurkan mereka sebenarnya bukan tujuan atau balas dendam. Karena kita sebagai umat Islam senantiasa menerima perbedaan. Andai saja mereka tidak menyerang kita, pasti kita akan bersahabat dengan mereka dan bahkan bersaudara dengan mereka dalam cinta dan damai. Kita tidak pantas menjadikan merekan sebagai umat Islam, karena hal itu hak Allah. Kita hanya mendapatkan hak ikhtiyar bukan hak menentukan.

0
Comments (1)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Tuhuk Ma'arit

Mantap

From Author
Loading…
ads
ads
ads