Ride Hailing atau yang lebih kita kenal dengan layanan transportasi online memiliki potensi yang sangat besar di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dimana mengutip informasi yang diberikan situs Statista, potensi pasar ride hailing di Indonesia itu mencapai 21.7 Juta. Jauh lebih besar jika dibandingkan dengan potensi di negara tetangga yang berada di kisaran 2 jutaan saja seperti di Singapura atau 4 jutaan saja seperti di Malaysia dan Thailand.
Berbicara soal layanan transportasi online, pada benak Anda sekalian pasti muncul kata “Gojek†dan “Grabâ€. Namun usut punya usut, selain kedua layanan transportasi online tersebut, ada layanan transportasi online lainnya yang sempat menjadi penantang namun akhirnya harus gugur dan gulung tikar.
Di bawah ini adalah 5 layanan transportasi online mirip Gojek dan Grab yang pernah ada di Indonesia namun harus gulung tikar dikarenakan persaingan yang ketat.
Â
1. Ladyjek

Warna pink dari jaket yang juga sekaligus menjadi seragam harian layanan transportasi online ini adalah salah satu ciri khas dari Ladyjek. Layanan transportasi online berupa ojek online hadir untuk memberikan kemudahan bagi para wanita yang biasanya membutuhkan alat transportasi ojek, namun enggan menggunakannya dikarenakan driver atau supirnya adalah kaum Adam.
Dengan driver atau para supirnya adalah wanita, Ladyjek memiliki target pasarnya adalah para wanita. Namun cukup disayangkan, terlepas dari konsepnya yang lumayan unik dan memiliki target pasar yang sama sekali tidak ada saingannya, aplikasi dari Ladyjek ini banyak mengalami bugs atau error sehingga cukup membuat kecewa para penggunanya.
Selain itu juga, tidak seperti Gojek atau Grab yang armadanya jutaan, Ladyjek hanya memiliki armada yang jumlahnya sedikit sehingga ketika ada demand yang tinggi, disitu biasanya para konsumen harus merasakan kekecewaan dikarenakan tidak adanya driver yang mau pick up atau datang menjemput. Andaikan ada juga biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Â
Â
2. Call Jack

Memiliki sistem mirip dengan taksi konvensional, Call Jack adalah layanan ojek online pertama yang menggunakan sistem argo. Berdiri pada tahun 2010, Call Jack memiliki ciri khas jaket dan helm kuning seperti warna taksi di luar negeri.
Call Jack sempat bersaing ketat dengan Gojek di Yogyakarta. Bahkan Call Jack ini juga sempat mendapatkan penghargaan dari MURI sebagai taksi motor pertama dengan sistem Argometer. Selain itu juga, Call Jack mendapatkan penghargaan sebagai layanan ojek online dengan pelayanan publik terbaik.
Namun terlepas dari berbagai achievement yang diraihnya, Call Jack akhirnya harus hengkang juga dari kompetisi yang memang sangat ketat ini.
Â
Â
3. Ojekkoe

Layanan ojek online “Ojekkoe†(dibaca:ojekku) adalah sebuah aplikasi yang didalamnya terdapat multi-services seperti halnya Grab dan Gojek sekarang ini, seperti adanya layanan antar barang, layanan antar makanan, dan tentunya, layanan transportasi online.
Yang membedakannya dengan Grab dan Gojek adalah sistem kemitraan antara pihak mitra dan pihak pemilik aplikasi layanan. Jika pada Grab dan Gojek menggunakan sistem bagi hasil dimana Grab dan Gojek mengambil 20 persen dari total tarif yang dikenakan ke penumpang. Sedangkan Ojekkoe ini menggunakan sistem bayar harian dimana mitra diharuskan membayar pihak pemilik aplikasi perhari selama menjadi bagian atau menjadi mitra Ojekkoe.
Keuntungannya, sang driver atau pengemudi mitra tidak akan kena pemotongan bagi hasil seperti halnya pada Gojek dan Grab. Sayangnya, sistem ini kurang diterima oleh para mitra, karena tidak semua mitra pengemudi itu adalah orang yang rajin mengambil orderan setiap hari atau istilahnya “ngebolangâ€.
Sistem tersebut sayangnya tidak berhasil diimplementasikan, dan Ojekkoe juga akhirnya harus mundur dari kompetisi.
Â
Â
4. Blujek

Setiap layanan ojek online di Indonesia umumnya memiliki ciri khas masing-masing dimana salah satunya bisa dilihat dari warna jaketnya. Untuk Blujek, warna yang menjadi ciri khasnya adalah warna biru dengan logo kompas GPS.
Ketika masih beroperasi, Blujek memiliki kantor pusat di Jakarta. Dengan armada yang cukup besar, Blujek terjun di dunia layanan ride hailing. Tapi sayangnya, Grab dan Gojek yang terus mendapatkan suntikan dana investor dari banyak raksasa industri membuat Blujek harus terpaksa mengibarkan bendera putih sejak tahun 2015 lalu.
Kekalahan dari Blujek sendiri tentunya dari perang tarif dan promosi yang tentunya kurang menarik bagi rakyat Indonesia.
Â
Â
bersambung ke halaman 2
5. Bangjek

Memiliki kemiripan dengan layanan ojek online lainnya, Bangjek juga memiliki multi layanan didalam aplikasinya seperti pengiriman paket, pesan makanan dan layanan lainnya yang hampir semuanya bisa kita temui pada aplikasi Gojek dan Grab.
Namun, layanan ini memiliki jenis layanan transportasi yang tidak dimiliki aplikasi lainnya yaitu jasa antar jemput ke tempat wisata. Contohnya Anda sedang berada di Bandung kemudian ingin berwisata ke Lembang atau ke tempat rekreasi lainnya, Anda dapat menggunakan layanan bangjek yaitu berupa layanan antar jemput ke tempat rekreasi.
Terlepas dari keunikan yang dimilikinya, Bangjek juga ternyata harus tutup karena tidak sanggup bersaing dengan para pesaingnya yang didukung oleh banyak investor besar.
Â
Â
6. TopJek

Keunikan dari TopJek yang menurut penulis jadi penyebab tumbangnya penyedia layanan transportasi ini adalah jumlah armadanya yang sangat terbatas dimana jumlahnya dibatasi hanya 10 ribu armada saja. Hal tersebut dikarenakan TopJek ingin menjadi penyedia layanan yang mengutamakan kualitas dibandingkan kualitas.
Salah satu keunggulan TopJek pada masanya adalah adanya fitur chatting dimana pengemudi dan pelanggan dapat berkomunikasi seperti halnya fitur chat yang ada pada Gojek dan Grab sekarang ini.
Tapi kembali lagi ke keunikan dari TopJek yang juga penyebab tumbangnya layanan ini, yaitu armada yang terlalu terbatas. Sehingga secara tidak langsung, TopJek menjadi sebuah layanan transportasi online yang jarang terlihat dijalanan, sehingga sedikit orang juga tahu.
Â
Â
7. Ojek Syar’i

Mirip seperti LadyJek, Ojek Syari yang dikhususkan untuk kaum Hawa ini sebetulnya cocok di Indonesia karena seperti kita tahu bahwa Indonesia itu adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Yang membedakannya dengan LadyJek, Ojek Syar’I ini menjadikan hukum syar’i sebagai pedoman untuk melayani para konsumennya.
Sayangnya nasibnya juga ternyata mirip dengan LadyJek dimana layanan transportasi online ini harus mengundurkan diri dari kompetisi layanan transportasi online di Indonesia.
Â
Penutup
Dari kebanyakan layanan ride hailing yang pernah ada di Indonesia, kebanyakan atau bahkan hampir semuanya mengalami kekalahan dari perang tarif dengan layanan transportasi online lainnya. Dan dari sini bisa disimpulkan bahwa layanan transportasi online ini adalah sebuah pasar atau market yang sangat kompetitif dimana fleksibilitas dari tarif menjadi salah satu penentu kesuksesan aplikasi bahkan ketika aplikasi tersebut sudah memiliki target pasar yang jelas dan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan layanan transportasi online lainnya. –BB-
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.