article

Labirin Tak Berujung (The Endless Maze) - Part 7

Labirin Tak Berujung (The Endless Maze) - Part 7

Gambar diambil dari fitrieye.blogspot.com

 

Baca cerita sebelumnya : Labirin Tak Berujung - Part 6

ads

 

Separuh Jiwa Pergi

 

Ario benar-benar terpukul. Hasil tes DNA yang menyimpulkan bahwa Marcel bukan anak kandungnya sungguh bagai pedang samurai yang menghujam jantungnya dan menembus sampai ke belakang. Ia merasa separuh jiwanya telah pergi.

Ia membaca sekali lagi hasil tersebut, berharap ia keliru membaca. Tak terasa air matanya jatuh begitu membaca hasil tes yang tetap tidak berubah. Tak bisa lagi menahan sesak di dada, Ario pun menangis sambil menjerit keras, “Wuuaaagghhh!!”

Jeritan tangis Ario yang membahana mengagetkan Dira yang masih bercengkrama dan bersenda gurau dengan Marcel. Marcel pun ikut tersentak kaget.

“Lastri, kamu tetap di sini jaga Marcel ya, saya mau lihat dulu ada apa!” Segera Dira berlari keluar menuju ke kamarnya. Perasaannya kalut, takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya.

“Beib, kenapa Beib?” Dira memegang pundak Ario, seketika Ario menepis tangannya.

“Aduh, sakiitt!!” Dira meringis kesakitan, lalu gantian berteriak, “Apa-apaan sih kamu! Kamu kenapaa??”

“Baca ini!!” Ario menghardik Dira sambil memberi hasil tes laboratorium yang sedari tadi dipegangnya.

“Apa ini?” Dengan ragu-ragu Dira membuka amplop itu lalu membacanya. “Aku tidak mengerti ini!”

“Ini hasil tes DNA! Ini punyaku, ini punya Marcel. Hasilnya menyatakan kalau kami hanya punya 1 pengulangan kromosom yang sama, selebihnya berbeda. Itu artinya ia bukan anakku, aku bukan BAPAKNYAA!!”

“Apaaa?? Jadi selama ini kamu melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanku? Untuk apa Beib? Kamu nggak percaya sama aku? Marcel jelas-jelas anak kamu! Kamu sudah gila apaa?” Kini Dira naik darah.

“Jadi itu apa artinya? Tes itu bukan saja dari tes darah tapi juga dari rambut! Dan semua hasilnya positif kalau Marcel bukan anakku!!”

“Kamu benar-benar sudah gila!!” Tak tahan dengan semua ini, Dira mencoba keluar kamar meninggalkan suaminya, namun Ario menahannya.

“Kamu yang GILA!! Selama ini kamu selingkuh di belakangkuu!!” Ario memegang tangan kanan Dira lalu menggenggamnya keras.

“Ario, kamu sakiitt!!” Dira tak kuasa membendung air matanya.

“Bilang sama aku kalau kamu memang selingkuh, BILANG!! Kalau tidak KUBUNUH KAMUU!!” Ario mendorong Dira hingga ke dinding, tangan kanannya mencekik leher Dira. Ia kesetanan.

“Tidaa..aakk!!” Dira memukul tangan kanan Ario yang mencekik lehernya, berharap Ario melepaskan cekikannya. Kalimat “tidak” yang keluar dari mulutnya sempat terputus akibat cekikan kuat Ario yang membuatnya tidak bernafas. Saat itulah Dira benar-benar sangat ketakutan.

“Papii...” Suara Marcel memecah suasana. Suara itu bagai malaikat penolong yang datang menghampiri Dira. Ario mengurangi cekikan di leher Dira dan menoleh ke belakang. Ia melihat Lastri, babby sitter-nya Marcel, sudah berdiri di depan pintu kamar mereka sambil menggendong Marcel.

“Marcell...!!” Dira menangis keras, lalu berlari menuju ke arah Lastri dan anaknya berada.

“Lihat!! Kamu lihat Ario!! Ini anakmu!! Wajahnya mirip kamu bukan? Bilang Lastri! Bilang sama bapak kalau Wajah Marcel mirip bapaknya! BILANG LASTRII!!”

“Be-benar pak... Marcel anak bapak...” Wajah Lastri berubah pucat.

“Papi, kenapa papi dan mami belantem, kenapa?” Kembali Marcel ikut nimbrung.

Mimik wajah Marcel yang polos dan tidak berdosa seolah-olah menyadarkan Ario bahwa ia telah berbuat kesalahan menganggap Marcel bukan anak kandungnya. Ia pun mendekati anaknya, menggendong sambil memandang lekat-lekat wajah Marcel lalu membandingkannya di cermin. Tiba-tiba ia melihat tidak ada yang berbeda antara wajahnya dengan wajah anaknya, ia pun tersentak kaget. Oh Tuhan apa yang sudah kulakukan?

Dira melihat keraguan di wajah suaminya. Menyadari situasi itu, ia balas menyerang Ario dengan kata-kata, “Lihat, sama kan? Mirip kan?”

“Ta... tapi, kenapa hasilnya bilang beda?”

“Kenapa kamu lebih percaya hasil ini dari pada aku? Aku ibunya! Lagipula bisa saja hasil ini salah, mungkin darah kamu atau rambut kamu ketuker dengan punya orang lain. Ya jelas beda!” Dira merampas Marcel dari gendongan Ario lalu memberikan kepada pembantunya.

“Tidak mungkin, Tito orangnya teliti, tidak mungkin ia salah seperti ini. Kalau salah ia tidak bisa jadi dokter spesialis!”

“Kenapa tidak mungkin? Dia kan manusia, Atau mungkin ia tidak salah, tapi stafnya?”

“Tapii,,, Aaaaghh!!” Ario kesal sekaligus malu, sambil berteriak kembali, ia meninju tembok kamarnya.

“Ario, mungkin ini saatnya kamu jernihkan pikiran kamu dulu di sini, biar aku, Marcel dan Lastri sementara ini tinggal di rumah nenek Marcel, oke?”

“Dira, maafkan aku...., aku khilaf!” Ario mencoba memeluk Dira, tapi Dira menepisnya.

“Aku tahu kamu khilaf, itu sebabnya kita berpisah dulu sampai kamu tenang. Jangan kuatir, aku nggak akan cerita sama mama. Nanti aku bilang kalau kami ke rumahnya karena Marcel lagi rindu sama neneknya.” Dira mengambil koper besar, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam koper itu.

“Nggak Dira. Aku saja yang pergi. Kamu tinggal saja di sini!” Ario mengambil kunci mobil dan segera beranjak keluar rumah.

“Ario!”

Ario tidak menjawab, ia bergegas menuju carport.

“Papi!” Marcel yang saat itu sudah tidak digendong Lastri, melihat papinya keluar rumah, ia pun memanggil sekaligus berlari mengejar Ario.

“Ario, kamu mau kemana?” Dira berlari mengejar Marcel lalu menggendongnya.

Ario tidak perduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Tanpa membawa baju sehelaipun, ia melajukan mobilnya kencang meninggalkan Dira, Marcel dan babby sitternya di rumah.

Dira hanya bisa memandang kepergian suaminya dengan berurai air mata. Marcel pun ikut menangis begitu melihat mamanya menangis.

Di dalam mobil, Ario menangis keras, “Aaaagghhh!! Aaaaggghhh!!”, sambil terus melajukan mobilnya kencang dan memukul setir mobil berkali-kali.

Saat belokan, tanpa disangka Ario, seorang pengendara motor lewat dan berniat belok ke arah Ario. Dengan cepat Ario memutar mobilnya berusaha menghindar dari motor tersebut. Syukur motor tersebut tidak ditabrak oleh Ario, namun karena semua serba cepat, Ario tidak mampu mengendalikan mobilnya yang masih melaju kencang dan akibatnya menabrak pohon besar di sekitar tempat itu.

“BRUUAAKKK!!”

Ario pun tak sadarkan diri.

 

 

Hati Yang Terluka

 

Labirin Tak Berujung (The Endless Maze) - Part. 7

Gambar diambil dari Orangefloat.wordpress.com

 

Setitik sinar terang menyinari wajah Ario. Kehangatan sinarnya menyadarkan dirinya dari pingsan yang sudah berjam-jam dialaminya. Ia mencoba membuka kelopak matanya, namun terasa berat. Ia mencoba sekali lagi, tetap tidak berhasil.

Dengungan suara terdengar, semakin lama semakin keras. Suara itu berasal dari tangisan Dira dan tangisan kakaknya Yanti. Nafasnya bergemuruh, Ada apa ini? Apakah aku sudah mati”, batinnya.

“Dira...” Ario memanggil istrinya tetapi Dira tidak menyahut.

“Diraa...” Ario memanggil sekali lagi dan tetap tidak menjawab.

Ario pun tersadar bahwa ia pun sebenarnya tidak bisa membuka mulutnya, perasaannya saja yang mengatakan bahwa ia sedang memanggil nama istrinya, tetapi sebenarnya tidak.

Tak berputus asa, ia mencoba menggerakkan jemarinya. Satu persatu ia coba gerakkan, mulai dari jari kelingking. Bak mengangkat beras 20 kilogram, jari kelingkingnya tak beranjak setitikpun. Ia menyerah.

Tanpa mampu berbuat apapun untuk membangunkan dirinya, kini Ario hanya bisa mendengar isak tangis dan percakapan yang kurang begitu jelas terdengar antara Dira dengan Yanti.

“Sudahlah Dir. Tak usah lagi ditangisi. Semua sudah terlambat. Nasi sudah jadi bubur.” Terdengar suara parau Yanti yang mencoba menghibur adik iparnya yang masih menangis sesunggukkan.

Apaaa? Sudah terlambat? Nasi sudah jadi bubur? Jadi benar aku sudah mati? Ario kaget bukan kepalang. Meski terdengar pelan dan parau, ia yakin tidak salah dengar perkataan kakaknya. Bulu kuduknya berdiri. Oh, tidaakk! Aku sudah mati!

Namun sedetik kemudian, Ario bertanya lagi dalam hatinya, Tapi jika benar aku sudah mati, apa mungkin aku masih bisa mendengar perkataan mereka? Aahh, tidak mungkin!. Ario kembali yakin kalau ia masih hidup.

Kak Yanti! Dira! Aku masih hidup! Kalian dengar aku? Aku masih hiduupp! Ohh, tidaak! Mereka pasti tidak bisa dengar apa yang kukatakan! Perasaan Ario bercampur aduk tak menentu.

“Sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri, Dir?” Terdengar suara berat seorang laki-laki yang ikut nimbrung pembicaraan Dira dengan Yanti.

“Kurang lebih tujuh jam, Bi...” Dira membalas ucapan sang pria yang tak lain adalah Bimo.

Bimo? Ngapain dia ada di sini? Tidak cukupkah kau merusak rumah tanggaku? Dira, usir manusia congkak itu! Aku benci dia! Ario berteriak sekencang-kencangnya, namun semua usahanya sia-sia, mereka sama sekali tidak mendengar.

Bagai terbawa mesin waktu, mendadak Ario teringat kembali ke masa silam, saat ingat omongan ibunya yang pernah mengatakan, “Warna kulit anakmu koq hitam ya, Yo? Padahal kalian berdua kan kulitnya putih.” Saat itu Ario masih acuh tak acuh dan menganggap ibunya hanya joking.

Ia pun teringat setahun yang lalu saat ia melihat Bimo pernah datang ke rumahnya sedang memeluk dan mencium mesra Marcel. Saat itu ia terkejut dan heran melihat pelukan mesra Bimo terhadap anaknya, tidak seperti layaknya paman dengan keponakan. Ia pun membandingkan dirinya dengan keponakannya Briyan yang tidak pernah ia peluk dan cium mesra. Ketika ia menanyakan kepada Dira, Dira hanya menjawab enteng “Bimo memang suka anak kecil.”

Sempat meredup, kecurigaannya kembali muncul saat kakaknya Yanti menceritakan kegalauannya mendengar pembicaraan Dira dengan temannya Dira kalau Marcel mirip Briyan yang sama-sama berkulit hitam atau lebih tepatnya sawo matang.

Hasil tes DNA yang menyatakan Marcel bukan anak kandungnya tadinya sudah meyakinkan dirinya, namun ucapan Dira berhasil meruntuhkan keyakinannya dan memutuskan untuk kembali percaya pada istrinya. Tapi entah mengapa, ia begitu membenci Bimo. Hatinya terluka setiap melihat abang iparnya.

“Dira, kami balik dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan kami tinggal?” Suara Yanti menghentikan lamunan mesin waktu yang menyandera Ario ke masa lampau.

“Nggak apa-apa mbak. Makasih sudah sempatin mau datang subuh-subuh begini.” Suara Dira masih terdengar parau akibat terlalu lama menangis.

Tak lama suasana pun hening. Tidak terdengar lagi pembicaraan mereka, kecuali bunyi tut, tut yang berasal dari arah kiri Ario.

Lho, itu kan bunyi elektrokardiogram*? Oh tidak! Apakah sampai separah ini kecelakaan yang kualami? Oh, Tuhan, aku belum mau mati! Perasaan takut kembali menyesaki dada Ario, kali ini lebih hebat dari sebelumnya.

*) Elektrokardiogram (EKG) : Mesin yang memonitor bunyi denyut jantung pasien.

Tiba-tiba ia merasa sangat lemas, seluruh tenaganya seperti tersedot keluar dari raganya. Ia yang sebelumnya sudah merasa lemas, kali ini benar-benar tambah tidak berdaya.

Bunyi heart rate monitor mulai tidak jelas lagi terdengar...

 

 

Inikah Surga Yang Dirindukan?

 

Labirin Tak Berujung (The Endless Maze) - Part. 7Gambar diambil dari APUS Collection

 

Dimana aku? Sebuah lorong? Oh, tidak! Lorong ini gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa di sini. Tuhan! Aku dimana?

Ario tengah berjalan dalam lorong yang gelap. Ia bagai orang buta yang sedang berjalan tertatih-tatih mencari pijakan dan kedua tangannya yang meraba-raba mencari pegangan.

Oh, itu ada sinar! Aku harus kesana!

Ario melihat setitik sinar, ia pun mempercepat langkahnya. Sinar itu semakin lama semakin dekat, seolah-olah ikut menjemput kedatangannya. Tak lama Ario akhirnya bisa melihat yang sebenarnya.

Waaww! Indah sekali pemandangannya! Benar-benar cantik! Inikah yang dinamakan surga?  

Ario takjub dengan apa yang dilihatnya. Ia berada di suatu tempat yang tinggi dan sejuk. Tempat ia berpijak penuh dengan bunga aneka warna yang harum semerbak dihiasi dengan rumput hijau yang segar. Dari jauh ia memandang sebuah gunung yang menjulang lebih tinggi berselimutkan awan putih dan dihiasi cakrawala senja yang cantik. Dalam sedetik hatinya merasa sangat damai, damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ario berjalan mendekati gunung itu, arak-arakan awan putih mengiringi langkah Ario, ia bagai berjalan di atas awan. Ia pun mempercepat langkahnya.

Ohh, indahnyaaa! Aku ingin di sini selamanyaa!!

Ario berteriak senang, ia melebarkan kedua tangannya, membiarkan hawa sejuk beraroma aneka bunga yang harum masuk memenuhi paru-parunya, lalu menari sambil berputar-putar laksana penari salsa.

Arak-arakan awan itu setia mengiringi langkah Ario, kemanapun ia pergi. Ario terus menari menuju ke gunung yang semakin lama semakin dekat menghampirinya. Ingin rasanya memeluk gunung yang indah itu.

Arioo! Arioo!

Tiba-tiba terdengar suara yang lembut memanggil namanya.

Engkaukah itu Tuhan?

Ario mencari arah suara itu.

Ariooo...!!

Ario menengok ke belakang. Suara itu berasal dari dalam lorong tempat ia sebelumnya berada. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar.

Langit yang semula cerah dan berwarna jingga terang, mulai berubah pekat dan butiran-butiran kristal bening yang lembut mengenai wajah Ario.

Ariooo...!!

Suara itu memanggil lagi. Sekarang ia kenal dengan suara itu.

 

 

Ku Ingin Bersamamu

 

Labirin Tak Berujung - Part 6

Gambar diambil dari http://codinganku.blogspot.co.id/

 

“Dokter!! Dokter!! Tolong suami saya dok, denyut jantungnya melemah!” Dira berteriak ke arah salah seorang dokter jaga dan tanpa sungkan menarik tangan dokter tersebut dengan paksa.

Tanpa menunggu waktu lama, seorang dokter dibantu tiga orang suster sudah berada di kamar VIP tempat Ario berbaring. Dengan cekatan mereka mempersiapkan segalanya.  

Tampak seorang suster sibuk mengutak-utik dan memencet tombol monitor EKG, sementara dua orang lagi stand by disamping sang dokter yang sedang berupaya meningkatkan detak jantung Ario yang semakin lambat berdetak dengan menghujamkan alat kejut jantung ke dada Ario.

Bunyi suara EKG terdengar semakin lambat seiring dengan grafik dalam monitor yang lebih sering terlihat garis datarnya dibanding garis kurva. Melihat itu Dira semakin menjerit histeris.

“Arioooo!!”

“Tenang, ya bu. Tenang!” seorang suster berusaha menenangkan Dira.

“Ada apa ini? Ario kenapa Diraaaa?” Seorang ibu setengah baya datang tergopoh-gopoh dan langsung memeluk Dira. Di belakangnya juga muncul pria setengah baya masuk ke kamar Ario dan ikut memeluk Dira.

“Mamaaa!” Dira balas memeluk ibu dan ayahnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia tidak mampu lagi menjawab pertanyaan ibunya.

Dokter masih berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa Ario yang tak lain adalah temannya sendiri. Ia mengoleskan gel ke dada Ario lalu menghujamkan lagi alat kejut jantung itu ke dada Ario.

“Arioo! Arioo!” Dira berteriak memanggil nama suaminya. “Arioo, bangun Beib! Bangun sayang!” Dira terus memanggil nama suaminya, semakin lama semakin keras. Ia tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.

Teriakan Dira ternyata membuat grafik yang membentuk kurva bergerak lebih cepat dari sebelumnya namun masih belum normal. Melihat hal itu, Dira melepaskan pelukan mamanya dan berlari ke arah Ario. Dira berteriak keras di telinga kanan Ario, berharap Ario tersadar dari komanya.

 “Ariooo!! Bangun Arioo!! Jangan tinggalkan kami Beib! Bangunlahh!” Dira berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Bulir-bulir air matanya tumpah mengenai wajah Ario.

Melihat adanya progres, sang dokter tidak mencegah Dira, ia memberi isyarat kepada susternya untuk membiarkan Dira.

Detak jantung Ario merespon suara Dira. Perlahan tapi pasti, denyut jantung Ario pun mulai kembali normal. Semua yang ada di ruangan itu akhirnya bisa tersenyum lega. Dira langsung memeluk suaminya yang masih tertidur, sambil berharap tidak akan melepaskan pelukannya.

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads